Tuesday, June 3, 2014

Tabula Rasa


 Tabula Rasa



Dengarlah keheningan ini wahai ruang
Aku berkata lantang mencakar udara
Rasakan naluriku ini wahai alam
Mencabik setiap rindu lewat ungkapan
Sentuhlah jiwaku ini wahai ...

Engkau sang semesta
Pulihkan akalku

Saksikan kehidupan ini wahai senja
Pagi berkata lantang merasuk sukma
Lihatlah sekitarmu ini wahai manusia
Adakah damai senantiasa bersama
Sentuhlah jiwaku ini wahai ...

Engkau sang semesta
Pulihkan jiwaku

Ingatlah sewaktu kau ada wahai ruang
Lahir suci tak berkalang noda dan cela
Tetapi dunia merusakmu dan aku juga
Merasuk jauh serta menimbun dosa
Sentuhlah jiwaku ini wahai ...  

Engkau sang semesta
Sucikan jiwaku


16 Maret 2013

Jentera Khayal

Andai ...

Dimana selaput berlumur darah
Terjungkal balik mengadu rahasia
Mencekam cantik tawa berlari pria
Amarah sunyi meledak terbakar riak

Setiap sunyi pun mengadu durhakamu
Sang anak kencing bersalto mencari sukmamu
Selat tergenang antara muka membiru malu
Setan mematuk tendangan hiasan terdahulu

Andai ...

Diam kumur berhenti terngkurap pasrah
Lemari memecah sandang berhenti sudah
Diri menang istilah lumut tentakel kerah
Layung senja menyiram rasa amarah

Andai ...
Dan itu hanya andai ...

Realita tak semanis duri mawar kuncup berseru
Sepahit duri kecubung menakluk malu

Sepahit itu ...
Jika itu bukan andai ...

Pasti
 
16 Maret 2013

Anomali Rasa

Tahukah ?

Seekor batu tertawa menjungkir dagu terpulas dahaga
Merancang haus terkulai lembaran haru nan fana
Tangan berderak tinta menjual amarah debu belukar
Jalang merana tersapu larutan pinggang durhaka

Wahai daun lompat menghina lari terayun debu
Dunia subur senjang bertingkah pusaka media sendu
Torehkan asa terjungkal dahi siku tersenyum biru
Juangkan tubuh tunggal tenaga salto mendayu

Namun tahukah
Mengerti ?

Puas lumpur memakan lengkuas berkarak sunyi
Merindu bunga tergilas lari semena angin masehi
Jantung menarik duri himpitan menangis luap sendi
Lukisan tawar penahan hidung terisak suaka lirih

Tahukah namun
Paham ?

Hentikan jangkrik wasiat tertawa merdeka lusuh
Dengki berukir melaknat seni dwipa canda suruh
Aksara nikmat hujan berkarat senang terdahulu
Jendela mendapat instan cuap kelakar berderu

Tahu apa ?

Tidak

Rima bercanda
Pemetik tawa
Menawan luka
Senandung haru
Pelukis duka
Sepi 
16 Maret 2013

Friday, March 2, 2012

Eye Shadow


Judul
Eye Shadow

Penulis
Keisha Sarang

Penerbit
Laskar Aksara

Tahun Terbit
2011

Tebal
170hal

ISBN
9786029041408

Adakalanya pepatah "Don't Judge A Book By Its Cover" itu benar juga. Karena seringkali kita menemukan sebuah harta karun narasi luar biasa dari buku yang penampilan luarnya tidak menarik mata untuk membaca isinya. Namun adapun kondisi yang berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ada sebuah pepatah baru berbunyi "Don't Buy A Book By Its Cover" yang terpaksa harus menelan pil pahit ketika membacanya dan otak menjadi keram serta intelegensi menurun drastis. Jelas hal ini menjadi sebuah petaka, karena banyak waktu terbuang secara percuma untuk hal-hal bodoh yang sekiranya tidak perlu dilanjutkan namun terpaksa pil pahit itu harus ditelan untuk sebuah tantangan.

Dan disini saya bercerita mengenai sebuah buku dengan desain sampul yang lumayan creepy yaitu Eye Shadow karya seorang penulis lokal yang disamarkan namanya yaitu Keisha Sarang. Karena saya yakin, tidak ada orang korea bernama Keisha Sarang yang membuat cerita dengan narasi bodoh seperti ini kecuali seorang ababil (baca ABG Labil) yang menjadi sok korea. Mengapa ababil? Karena keseluruhan penulisan narasi dari awal serta akhir tidak beraturan, maka dari itu saya bisa katakan bahwa cerita ababil dengan karakter utama ababil dengan penulis cerita ababil.

OK, berikut ini sedikit narasi yang terletak di bagian belakang sampul buku ini yang saya pikir cukup bertolak belakang dengan gambar sampul depan buku ini :

Eye Shadow, sebuah novel drama romantis, mengiris tragis tentang cinta yang terkikis. Setiap apa yang kulihat selalu ada bayangannya di mataku. saat aku mengkultuskan cinta, maka, saat itu juga aku terjebak di dalam permainannya (sarangeun apeun-go) cinta itu menyakitkan, meskipun (sarangeun geoseul chiyu hamnida) cinta itu menyembuhkan segalanya sebuah kebodohan telah membuatku kehilangan orang yang sangat kucintai. penyesalan selalu datang di akhir cerita. Setelah aku tahu betapa besar cinta & pengorbanannya untukku jindo, (sarang han dago) aku mencintaimu.

Stop! sampai disitu, karena lebih baik hanya membaca cungkilan itu saja sebelum tersiksa lebih dalam dengan membaca isinya. Karena begitu membaca cungkilan sekilas itu, nampak begitu menarik apalagi bagi orang-orang yang demam halyu wave atau apapun yang berbau-bau korea. Dan disini dengan desain sampul yang menarik namun aneh, mampu memikat orang dengan sihirnya. Sampai akhirnya tangan saya menyambar buku ini di sebuah toko buku untuk sebuah tantangan membaca dan menulis.

Berbicara mengenai isinya, pengarang ababil ini menceritakan seorang foto model papan atas korea bernama Nara yang karakternya cukup ababil bak pelacur yang gampang jatuh cinta dengan banyak pria dengan pandangan pertama. Namun ketika dikecewakan dengan pria-pria tersebut, dia kembali lagi ke pelukan seorang Jindo yang dia benci, tetapi Jindo tetap mencintai dia tanpa menunjukannya secara lebih seperti yang Nara mau. Itu garis besar cerita buku ini. Namun ide seperti itu tidak mampu digarap secara mendalam oleh pengarang sehingga yang terjadi adalah beberapa kebodohan.

Kebodohan pertama adalah karakter labil seorang foto model papan atas.
Kebodohan kedua adalah buku ini seharusnya cerita cinta Nara & Jindo.
Kebodohan ketiga adalah terlalu korea yang menghilangkan narasi cerita.
Kebodohan terakhir yang paling fatal adalah :

" Buku ini nyaris saya anggap sebagai buku petunjuk perjalanan wisata ke korea. Karena lumayan akurat sebagai petunjuk wisata yang menarik di semenanjung korea. Selain itu, buku ini lumayan bagus sebagai info bagi penggemar mobil. Karena dengan membaca buku ini, rasanya saya tidak perlu membeli majalah automobile yang membahas mobil khususnya merek hyundai. Dan juga rasanya, saya tidak perlu lagi membeli buku kesehatan. Karena info tentang kesehatan lumayan dijelaskan disini. Selain itu buku ini lumayan bisa pengganti buku chord yang berisi lirik-lirik lagu berbahasa korea. Dan yang terakhir, anda tidak perlu membeli kamus bahasa korea. Karena disini banyak sekali tulisan huruf korea yang ditulis sekaligus cara bacanya dan artinya. "

Jadi, lebih baik hemat uang anda untuk membeli buku ini jika ingin mencari cerita cinta romantis. Namun jika anda ingin mencari buku tentang perjalanan wisata korea, buku tentang automobile korea, buku kesehatan, buku chord musik lagu korea, serta kamus bahasa korea. Buku ini adalah salah satu rekomandasi terbaik dari saya, karena hanya dengan membeli satu buku ini maka anda bisa menghemat uang anda.

Rating



Wish You Were Here



Judul
Wish You Were Here

Penulis
Leslie Simon

Rilis
2009

Penerbit
HarperCollins

Wish You Were Here ini adalah buku kedua Leslie Simon yang pernah saya baca selain Everybody Hurts yang menceritakan mengenai segala tentang budaya emo. Sedikit berbeda dengan Everybody Hurts yang konsen ke musik dan band pengusung genre tersebut, di buku sekuel Everybody Hurts ini Leslie Simon lebih menjelaskan mengenai awal mula scene musik emo di amerika beserta daerah yang menjadi basisnya.

Sebenarnya segala kerusuhan yang terjadi sekarang ini bermula di Washington DC tahun 1987 lewat sebuah record label yang sudah dikultuskan yaitu Dischord Records dimana Embrace merilis album debutnya yang menjadi pionir musik emo untuk label tersebut. Sedangkan di saat yang sama Ian MacKaye yg menjadi mantan anggota Embrace serta Minor Threat membentuk Fugazi yang menjadi perbincangan saat itu. Ian MacKaye saat itu juga berfilosofi lewat lagu Straight Edge lewat band Minor Threat menjadikan ia sebagai simbol the way of life akan Straight Edge yg cukup booming di Indonesia. Lewat Fugazi, lahirlah sebuah genre musik bernama Post-Hardcore yang menurut sebagaian orang dilabeli Emocore.

Bukan hanya scene musik di Washington DC saja. Leslie juga menjelaskan pergerakan musik di Los Angeles pada tahun 1994, dimana saat itu Weezer merilis album debut mereka yang diberi nama "The Blue Album" oleh para fansnya. Beberapa tahun kemudian tepatnya pada bulan september 1997 ada juga pergerakan juga di Kansas, dimana Doghouse Records merilis album debut Get Up Kids. Kemudian di Seattle pada musim panas 1998 muncul Modest Mouse dan Death Cab For Cutie yang menjadi icon hingga saat ini. Pada musim semi 2000 lahir Dashboard Confessional serta Less Than Jake di Florida. Sementara di Long Island pada bulan Agustus pada tahun yang sama Taking Back Sunday menunjukan kiprahnya.

Setelah itu banyak yang dijelaskan oleh Leslie akan scene musik di The Bay Area, New York, Omaha, Chicago sampai akhirnya di The Twin Cities pada tahun 2004 sebagai titik akhir dari pergerakan ini yang dimana setelah itu banyak bermunculan band-band baru bertajuk emo salah kaprah yang banyak dicela dan dimaki. Band emo salah kaprah inilah yang membentuk sisi negatif dari the real emo itu sendiri sehingga banyak yg melecehkannya.

Di Wish You Were Here, Leslie menjelaskan kepada pembaca pahami akar musik itu sendiri dan jangan sampai anda terjebak oleh tren yang ada sekarang tanpa mengetahui sejarah asal mulanya. Selain itu, buku ini adalah sebuah panduan yang bagus untuk memahami secara mendalam pergerakan musik hardcore serta tabiat scenester-nya di Amerika sampai masuk ke dalam dunia punk rock dengan semangat DIY (Do It Yourself).

Disitulah sejarah terbentuk sampai matinya diceritakan Leslie secara detail serta ilustrasi menarik karya Rob Dobi. Dan akhirnya, buku Wish You Were Here ini adalah sebuah memoar akan sebuah sejarah pergerakan musik the real emo di Amerika.

" death to false emo "

Rating



Sunday, October 23, 2011

Broken Note | Terminal Static [ a review ]



A dubstep but it fade to the dark. Dengan tempo yang lebih lambat daripada breakcore ala Venetian Snare yang cepat dengan jungle beat-nya, Broken Note hadir lewat album Terminal Static. Beranggotakan Tommy dan Eddie yang tak lain adalah DJ dan produser musik, proyek Drum n Bass asal London UK ini menunjukkan eksistensinya.

Luar biasa, itu kesan saya ketika mendengarkan album ini untuk pertama kalinya. Coba bayangkan dubstep dengan atmosfer yang sangat kelam dan cenderung brutal dengan sound bass kental yang sanggup merobek kuping ditambah dengan sedikit sentuhan musik khas rastafarian. Bukan hanya itu tetapi Terminal Static menjelma menjadi satu dominasi drum n bass tanpa menjadi takut kotor dengan segala kebrutalan yang ada.

Terminal Static adalah monster futuristik yang siap meluluh lantakan siapa saja yang dilewatinya. Dibuka lewat track Mortal Bass yang sarat drop down bass yang kental, kasar dan lambat serta kolaborasi dengan musik rastafarian, Broken Note mencoba mengenalkan musiknya kepada pendengar awam akan dubstep yg menjelma menjadi darkstep. Efek haunting nan gelap dilanjutkan di track Let'Em Hang yg ditambah sedikit patahan breakbeat dengan monolog vokal membuat sang monster menunjukan kekuatannya. Mask of Glass hadir lebih santai tetapi tetap dengan drop down bass yang menghantui siapa saja yang mendengarkannya.

Akhirnya sang monster sudah sampai di medan peperangan, Meltdown membuktikannya. Drop down bass yang kental serta loop bass drum menjadikan suara machine gun mendominasi serta jungle beat yang beradu padu siap menghancurkan siapa saja yang berada di depan sang monster. War In The Making sudah mencapai titik brutal, filthstep dan grime bass yang bisa merobek robek telinga namun tetap bisa diajak untuk berdamai. EPIC !

Zealot begitu istimewa, track ini begitu menghantui saya dan sampai membuat saya merinding. Sangat kelam dan gelap. Disinilah adrenalin saya mulai naik sampai titik maksimal yang kemudian dilanjutkan dengan Pyrotek, dan disinilah pesta breakcore dimulai. And it's time to trance in the warfield. Setelah semua itu berlalu, pemusnahan secara perlahan-lahan di mulai dari Dubversion. Elemen minimalis breakcore sangat menarik di sini, yang kemudian dilanjutkan ke Crux dengan atmosfer yang sangat kelam. Selanjutnya adalah Tokyo Dub. Dan ini sangat unik karena adalah versi remix oleh Broken Note dari band psytrance Juno Reactor (saya jadi ingat sama Final Fantasy VII jika mendengar nama Juno Reactor).

Final konfrotasi dimulai setelah sang Monster dengan code Terminal Static menemui Final Boss di area terakhir. Nuansa epic begitu terasa di permulaan pertarungan akbar yang dikenal dengan nama "The Fury" yang pernah dicatat dalam sejarah. Disinilah totalitas dari musik Broken Note nampak dengan dentuman breakcore yang begitu indah membuat pertarungan ini menjadi satu pertempuran epic. Sungguh LUAR BIASA !

Sebenarnya Broken Note sudah selesai sampai disini, tetapi mereka memberikan dua encore. Yang pertama adalah remix Dubversion oleh Hecq dan remix Crux oleh I Am The Sun. Keduanya sungguh track yang sangat menarik dengan cita rasa yang berbeda namun tetap sama.

Wew ... saya tidak bisa berkata lebih banyak mengenai album Terminal Static ini, speechless saya mendengarkan album ini. Ini adalah satu bentuk masterpiece, ketika dubstep yang awalnya sudah kelam namun menjadi lebih kelam serta mengerikan ketika dipoles oleh Broken Note, mungkin kalau bisa dikata ini adalah darkstep dengan banyak unsur filth dan breakcore. Pencapaian yang luar biasa untuk mereka yang bermain di genre drum n bass, khususnya dubstep dan breakcore. AWESOME !

Artist
Broken Note

Album
Terminal Static

Rilis
2009

Genre
Dubstep, Breakcore, Drum n Bass

Rating

Artificial Melodrama | Cut&Paste [ a review ]



Berbicara album Cut&Paste dari Artificial Melodrama, pasti membicarakan sesuatu yang renyah, ringan, bisa melayang namun ada kalanya ngawur dan tidak konsisten. Artificial Melodrama yang kalau bisa diartikan adalah drama yang mengharu biru akan tetapi bukanlah sebuah realita tetapi adalah rekayasa, dan yang harus disalahkan atas ini adalah seorang yang bernama Alu yang mengerjakan proyek ini seorang diri.

Cut&Paste kalau saya bisa bilang tidak konsisten dengan apa yang diusungnya, awalnya saya berharap adalah sebuah ambient indah yang menarik untuk didengarkan di malam hari. Itu terbukti setelah saya cukup nyaman dengan track pembuka yaitu glance at the window, look! it's raining yang bisa dikatakan sebagai The American Dollar atau The Album Leaf asal Indonesia, indah dan menarik sekali.

Namun ketika sudah beranjak ke track winter in room 203, terjadi perbedaan genre yaitu elektronik meskipun itu juga santai. Tetapi sedikit saya merasa terganggu dengan suara raungan gitar yang menurut saya masih terlalu kasar distorsinya pada pertengahan track, tetapi secara komposisi sudah menarik. Ketidak konsistenan dimulai lagi pada track ketiga yaitu suddenly, on astral highway yang cukup bernuansa psychedelic.

Album ini memang tidak konsisten, setelah cukup disiksa di track sebelumnya tetapi saya cukup dihibur di track humming on the flower fields yang kembali lagi ke ambient dengan influent yang sangat besar dari Sigur Ros maupun The Album Leaf yang cukup indah dan mendayu.

Summer's scent of our youth cukup renyah sebagai track yang bisa dilabeli dengan nama post-rock, apalagi dengan sampling monolog dua orang gadis dengan berhasa jepang di pertengahan lagu. Menjadikan track ini sebagai oase diantara ketidak konsistenan album Cut&Paste. Terjuktaposisi melanjutkan apa yang sudah dilakukan track pendahulunya, dan ini adalah satu bentuk konsistensi awal di dalam album ini.

Sore itu angin tak berhembus sebagai track penutup, kembali mengusung genre ambient dan itu melanjutkan ketidak konsistenan album ini. Saya akhirnya menjadi bingung, mau dibawa kemana arah album ini. Karena terlalu banyak yang ditawarkan dan ada beberapa yang bertolak belakang dengan yang ada sebelumnya. Dan mungkin itu yang dimaksud oleh Cut&Paste, potong dan tempel. Potong genre ini, tempel saja genre baru ini. Setelah itu potong lagi genre yang tadi sudah di tempel, lalu tempelkan lagi dengan yang baru.

Akhir kata, konsep ketidak konsistenan itu yang bisa ditawarkan oleh Artificial Melodrama lewat judul albumnya Cut&Paste. Potong yang lama dan tempel yang baru sehingga terciptalah ketidak konsitenan itu.

Artist
Artifical Melodrama

Album
Cut&Paste

Rilis
2010

Genre
Ambient, Electronic, Post-Rock

Rating

KARA | Winter Magic [ a review ]



Jauh sebelum mengenal girl group asal Korea Selatan yang melebarkan sayapnya ke negeri Jepang yang memang asal usul Girl Group Asia Timur yang kemudian ditiru sama Korea Selatan, satu dekade yang lalu ada seorang penyanyi asal Korea Selatan yang saat itu menjadi favorit saya yaitu Kwon Boa yang juga melebarkan sayapnya di negeri J-Pop tersebut dan sukses. Namun saya tidak berbicara mengenai dia, namun kepada KARA. Girl Group asal korea selatan yang beranggotakan Park Gyuri, Han Seungyeon, Jung Nicole, Kang Jiyoung dan Goo Hara juga melebarkan sayapnya ke negeri seberang agar bisa masuk industri musik terkuat di kawasan Asia. Winter Magic adalah salah satu single mereka yang berbahasa Jepang yang digunakan untuk menancapkan eksistensi mereka di pusat industri musik Asia.

Single Winter Magic menurut saya cukup catchy dan dipadu dengan irama yang riang gembira, ada satu instrumen yang mengingatkan saya bahwa musim dingin akan datang dan hari Natal akan tiba. Namun sayang, kelebihan utama dari industri K-Pop terutama Girl Group terletak pada Video Klip mereka yang sangat atraktif dengan dansa. Namun tanpa itu dan hanya berbicara mengenai musik, maka Winter Magic sama saja seperti musik K-Pop or J-Pop yang catchy nan riang gembira di telinga saya namun tanpa ada sesuatu yang lebih.

Telinga saya berharap bahwa vokal girl/boy group adalah sekumpulan penyanyi yang bisa bernyanyi secara berkelompok yang bisa menciptakan harmonisasi suara berdasarkan karakter suaranya masing masing, atau setidaknya berimprovisasi vokal dan itu tidak saya temukan dalam Winter Magic. Namun ada yang sedikit membuat saya kagum ketika track Whisper disenandungkan, cukup kagum juga dengan sedikit harmonisasi suara yang ada disana namun tidak terlalu mencolok.

Overall, sebenarnya ingin mendengarkan lebih akan potensi KARA di dalam satu album. Tetapi dari 2 single plus 2 instrumental buat karaoke, tidak ada sesuatu yang special di dalam musik dan lagunya.

Artist
KARA

Single
Winter Magic

Rilis
2011

Genre
J-Pop

Rating

Spider and The Flies | Something Clockwork This Way Comes [ a review ]



WTF .... hahahaa, annoying dan weird abis. Benar-benar aneh sekaligus lucu ketika mendengar bunyi-bunyian yang diciptakan oleh Spider And The Flies lewat extended play mereka yaitu Something Clockwork This Way Comes yang rilis di tahun 2009. Ada kalanya musik ini mengingatkan saya akan soundtrack atau scoring film kult horror maupun sci-fi berbudget rendah di era tahun 50'an, namun lebih kental nuansa yang ganjil. Yeah, Spider and The Flies adalah proyek sampingan dari Rhys Webb dan Tom Cowan yang tidak lain adalah personel dari band The Horrors. Sebuah proyekan experimental yang benar-benar "aneh" dalam arti sebenarnya.

Mendengarkan musik ini, saya jadi membayangkan manusia berkepala laba-laba dan manusia berkepala lalat sedang bertarung dengan setting film horror kult klasik berbudget rendah yang penuh dengan spesial efek tembakan laser. Mungkin lebih jelasnya begini, ada UFO datang ke bumi membawa alien berkepala laba-laba dan seorang lagi berkepala lalat turun memakai sinar dari UFO itu sampai turun ketanah lantas berdansa dengan gaya yang aneh dan absurd sambil menembak kesana kemari tak tentu arah lewat pistol lasernya. Aneh, tapi itulah bayangan yang saya dapat ketika mendengarkan musik Spider And The Flies. Experimental dengan permainan noise ala elektronika disuarakan dengan nada nada ganjil dan aneh membuat band ini benar2 unik di telinga saya.

Membicarakan musiknya Something Clockwork This Way Comes dibuka melalui Million Volt Light sangat kental nuansa ambient yang dipadu suara elektronika yang ganjil namun mampu menggambarkan imajinasi seperti yang saya tulis sebelumnya. Track Jungle Planet lebih nge-beat plus penambahan suara2 noise yang sangat annoying. Space Walking sangat monoton dan tidak menarik menurut saya tetapi track selanjutnya yaitu Metallurge cukup menarik. Ini saatnya saya diajak berdansa dengan gerakan yang sangat aneh, konyol nan absurd seperti yang dilakukan kedua alien tersebut yg sudah turun dari UFO dengan gerakan dansa yang sangat aneh dan gak wajar, mungkin bisa dikatakan autis.

Desmond Leslie benar2 pure noise namun tidak se harsh Merzbow atau proyekan noise yang bisa bikin telinga berdarah. Noise yang ada lebih kalem dengan permainan elektronika yang sangat dominan dan annoying kelas berat. Setelah cukup disiksa oleh Desmond Leslie, kedua alien ini mulai berdansa aneh lewat Teslabeat. Mungkin karena efek petir Tesla, kedua alien era 50'an terlempar ke masa depan dan jatuh di masa kini di sebuah klub disko bernama Autochrome yang sedang memainkan dentuman musik techno. Tidak bisa tinggal diam, mereka kemudian berdansa kembali dengan cara yang aneh sampai klub disko itu tutup.

Unik dan aneh, itulah gambaran yang bisa saya berikan akan musik dari Spider And The Flies. Keunikan itu yang membuat band ini menjadi spesial di telinga gw, meski akhirnya tidak mencapai eargasm tetapi Something Clockwork This Way Comes menjadi sesuatu yang sangat baru di telinga saya. Mungkin album ini tidak cocok untuk semua orang, tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba memasuki dan mendalami dunia aneh karya Rhys Webb dan Tom Cowan lewat proyek musiknya yang bernama Spider And The Flies.

Artist
Spider And The Flies

Album
Something Clockwork This Way Comes

Rilis
2009

Genre
Experimental, Electronic, Noise

Rating

David Guetta | Nothing But the Beat [ a review ]




Fuck Me, I'm Famous
Yeah ... Fuck Me, I'm Famous
Sure ... Fuck Me, I'm Famous


Itulah salah satu quote yang terkenal dari seorang DJ asal prancis yaitu David Guetta. Berangkat dari club house fundamental, DJ yg menjadi salah satu pionir musik French House selain ini menunjukan eksistensinya. Dengan bermain di area French House yang menjadi ciri khasnya, Guetta menjadi salah satu DJ terbaik di bidang ini selain Daft Punk yg juga berasal dari sana. Apalagi setelah sering memanaskan lantai dansa di Ibiza, Guetta mulai dikenal secara International.

Invasi International Guetta dimulai dari album One Love yang rilis tahun 2010 dengan berkolaborasi dengan musisi papan atas dunia. Namun saya tidak menceritakan album tersebut, tetapi lebih ke album terbarunya yaitu "Nothing But The Beat". Disini musik Guetta mulai menyatu dengan musik Hip Hop yang menjadi pasar dunia saat ini meski masih ada ciri khas House ala dia.

Tetapi saya sempat kecewa dengan album ini, meski secara umum album ini sangatlah bagus. Kekecewaan saya yaitu ketika mendengarkan Disc pertama dari album ini. Musik Guetta yang saya kenal dengan French Housenya, sudah berubah sama sekali. Saya sendiri hampir tidak mengenali karakter musik French House Guetta. Meskipun begitu, disc pertama ini sanggup memanaskan suasana dengan mengajak badan ikut bergoyang. Well, meskipun begitu Disc pertama album ini tidak mampu mengajak saya menaikan adrenalin sampai tingkat tertinggi.

Dua Belas Track di Disc pertama menurut saya sangat biasa, seperti kebanyakan musik elektronik House dengan bumbu Hip hop yang lain. Meski dengan lirik2 dan nada yang cathcy, tidak bisa membuat saya lebih mengenal musik Guetta. Akhirnya yg saya tahu hanyalah artis semacam Taio Cruz, Niki Minaj, Ludacris, Will.I.Am, Snoop Dog, dsb ... dalam satu wadah album kompilasi dengan genre Hip Hop House. Saya lupa bahwa ini adalah album terbaru dari David Guetta.

Namun, sungguh saya sangat terkejut dengan Disc kedua dari album ini. Dibuka dengan track The Alphabeat akhirnya saya mengetahui bahwa inilah musik yang menjadi ciri khas David Guetta yang saya kenal. Adrenalin saya mulai naik ketika mendengarkan track kedua yaitu Lunar kemudian dilanjutkan dengan Sunshine. Tidak mampu untuk berdiam diri, badan pun ikut bergoyang mengikuti irama musik dan headbanging ala musik berkelas French House pun terjadi. Track kemudian dilanjutkan ke Little Bad Girl yg mampu mengajak saya menuju tingkat adrenalin tertinggi. Metro Music yang hadir selanjutnya dan dipadu dengan permainan synth yang kental dengan dentuman bass drum ala House membuat saya tidak berhenti untuk menikmati ini. Disinilah saya merasa merinding mendengarkan musiknya sampai ke puncak eargasm. Saya kembali terkejut ketika mendengarkan track selanjutnya yaitu Toy Story, dibuka dengan musik chiptune 8bit dgn komposisi musik yang apik membuat track ini menjadi salah satu track favorit saya di album terbaru Guetta. EPIC !

Setelah Toy Story, David Guetta mengajak saya tour ke The Future yang kemudian dilanjutkan ke Dreams yang mampu mengajak saya menuju ke House fundamental. Setelah itu langsung mengajak saya turut serta ke Paris untuk berdansa di salah satu club house disana. Yeah, this is good. This is the real House. Akhirnya Guetta mengajak saya terbang ke salah satu klub di Glasgow sebagai tempat terakhir untuk menikmati permainan musiknya, inilah klimaks sesungguhnya. Puncak adrenalin tertinggi dapat saya dapatkan di track ini, track pamungkas dari Nothing But The Beat. Hasilnya, telinga saya mengalami eargasm beserta badan dan kepala yang tidak berhenti bergoyang. Dan ketika sudah selesai dengan cara yang tidak mengenakan, saya hanya tinggal mengulanginya kembali karena Guetta tidak menyediakan encore.

Well, Nothing But The Beat adalah album yang bagus. Disc kedua adalah disc yang sanggup menyelamatkan penilaian saya terhadap musik David Guetta seperti yang saya kenal sebelumnya. Tidak seperti Disc pertama yang menurut saya hampir seperti album kompilasi music Hip Hop House, meskipun itu tidak buruk bahkan bagus dan ear catchy.

Jika anda menyukai musik yang ada di pasaran saat ini, disc pertama adalah harta karun yang tidak ternilai. Dan jika anda menyukai musik yang dipakai di lantai dansa serta mampu mengajak anda menuju tingkat adrenalin tertinggi bahkan bisa sampai eargasm, disc kedua ini adalah harta karun dari David Guetta. Nice Album !

Artist
David Guetta

Album
Nothing But the Beat

Rilis
2011

Genre
House, Dance, Electronic

Rating