Sunday, October 23, 2011

David Guetta | Nothing But the Beat [ a review ]




Fuck Me, I'm Famous
Yeah ... Fuck Me, I'm Famous
Sure ... Fuck Me, I'm Famous


Itulah salah satu quote yang terkenal dari seorang DJ asal prancis yaitu David Guetta. Berangkat dari club house fundamental, DJ yg menjadi salah satu pionir musik French House selain ini menunjukan eksistensinya. Dengan bermain di area French House yang menjadi ciri khasnya, Guetta menjadi salah satu DJ terbaik di bidang ini selain Daft Punk yg juga berasal dari sana. Apalagi setelah sering memanaskan lantai dansa di Ibiza, Guetta mulai dikenal secara International.

Invasi International Guetta dimulai dari album One Love yang rilis tahun 2010 dengan berkolaborasi dengan musisi papan atas dunia. Namun saya tidak menceritakan album tersebut, tetapi lebih ke album terbarunya yaitu "Nothing But The Beat". Disini musik Guetta mulai menyatu dengan musik Hip Hop yang menjadi pasar dunia saat ini meski masih ada ciri khas House ala dia.

Tetapi saya sempat kecewa dengan album ini, meski secara umum album ini sangatlah bagus. Kekecewaan saya yaitu ketika mendengarkan Disc pertama dari album ini. Musik Guetta yang saya kenal dengan French Housenya, sudah berubah sama sekali. Saya sendiri hampir tidak mengenali karakter musik French House Guetta. Meskipun begitu, disc pertama ini sanggup memanaskan suasana dengan mengajak badan ikut bergoyang. Well, meskipun begitu Disc pertama album ini tidak mampu mengajak saya menaikan adrenalin sampai tingkat tertinggi.

Dua Belas Track di Disc pertama menurut saya sangat biasa, seperti kebanyakan musik elektronik House dengan bumbu Hip hop yang lain. Meski dengan lirik2 dan nada yang cathcy, tidak bisa membuat saya lebih mengenal musik Guetta. Akhirnya yg saya tahu hanyalah artis semacam Taio Cruz, Niki Minaj, Ludacris, Will.I.Am, Snoop Dog, dsb ... dalam satu wadah album kompilasi dengan genre Hip Hop House. Saya lupa bahwa ini adalah album terbaru dari David Guetta.

Namun, sungguh saya sangat terkejut dengan Disc kedua dari album ini. Dibuka dengan track The Alphabeat akhirnya saya mengetahui bahwa inilah musik yang menjadi ciri khas David Guetta yang saya kenal. Adrenalin saya mulai naik ketika mendengarkan track kedua yaitu Lunar kemudian dilanjutkan dengan Sunshine. Tidak mampu untuk berdiam diri, badan pun ikut bergoyang mengikuti irama musik dan headbanging ala musik berkelas French House pun terjadi. Track kemudian dilanjutkan ke Little Bad Girl yg mampu mengajak saya menuju tingkat adrenalin tertinggi. Metro Music yang hadir selanjutnya dan dipadu dengan permainan synth yang kental dengan dentuman bass drum ala House membuat saya tidak berhenti untuk menikmati ini. Disinilah saya merasa merinding mendengarkan musiknya sampai ke puncak eargasm. Saya kembali terkejut ketika mendengarkan track selanjutnya yaitu Toy Story, dibuka dengan musik chiptune 8bit dgn komposisi musik yang apik membuat track ini menjadi salah satu track favorit saya di album terbaru Guetta. EPIC !

Setelah Toy Story, David Guetta mengajak saya tour ke The Future yang kemudian dilanjutkan ke Dreams yang mampu mengajak saya menuju ke House fundamental. Setelah itu langsung mengajak saya turut serta ke Paris untuk berdansa di salah satu club house disana. Yeah, this is good. This is the real House. Akhirnya Guetta mengajak saya terbang ke salah satu klub di Glasgow sebagai tempat terakhir untuk menikmati permainan musiknya, inilah klimaks sesungguhnya. Puncak adrenalin tertinggi dapat saya dapatkan di track ini, track pamungkas dari Nothing But The Beat. Hasilnya, telinga saya mengalami eargasm beserta badan dan kepala yang tidak berhenti bergoyang. Dan ketika sudah selesai dengan cara yang tidak mengenakan, saya hanya tinggal mengulanginya kembali karena Guetta tidak menyediakan encore.

Well, Nothing But The Beat adalah album yang bagus. Disc kedua adalah disc yang sanggup menyelamatkan penilaian saya terhadap musik David Guetta seperti yang saya kenal sebelumnya. Tidak seperti Disc pertama yang menurut saya hampir seperti album kompilasi music Hip Hop House, meskipun itu tidak buruk bahkan bagus dan ear catchy.

Jika anda menyukai musik yang ada di pasaran saat ini, disc pertama adalah harta karun yang tidak ternilai. Dan jika anda menyukai musik yang dipakai di lantai dansa serta mampu mengajak anda menuju tingkat adrenalin tertinggi bahkan bisa sampai eargasm, disc kedua ini adalah harta karun dari David Guetta. Nice Album !

Artist
David Guetta

Album
Nothing But the Beat

Rilis
2011

Genre
House, Dance, Electronic

Rating

Saturday, October 22, 2011

Arrington de Dionyso - Malaikat dan Singa | review album


Mendengar nama Arrington De Dionyso, saya jadi ingat ketika setahun yang lalu ada teman di kaskus menawarkan album ini untuk saya coba dengarkan. Karena album Malaikat dan Singa adalah album berbahasa Indonesia yang dinyanyikan oleh orang asing. Saya lupa mengapa saya melewatkan album "Malaikat dan Singa" yang sempat menjadi pembicaraan saat itu. Namun baru beberapa hari ini saya mencoba dan mendengarkan apa itu yang dinamakan Malaikat dan Singa.

Sebuah album experimental dengan unsur free-jazz dan avant-garde yg cukup kental. Dan terlebih lagi album Malaikat dan Singa adalah album berbahasa Indonesia yang dinyanyikan oleh seorang non-pribumi kelahiran Washington Amerika Serikat yang sangat menyukai hal berbau INDONESIA. Namun sangat disayangkan, saya melewatkan konser dia di Jakarta Noise Fest beberapa waktu yang lalu karena terlambat datang sehari.

Well, sebelum membahas lebih dalam review album Malaikat dan Singa. Album ini setelah saya dengarkan pertama kali sangat segmented dan bukan ditujukan untuk khalayak umum yang terbiasa mendengarkan musik dan lagu yang mudah dicerna oleh telinga. Namun jika telinga sudah terbiasa dengan musik "out of the box" dan terbiasa dengan surealisme apa yang dinamakan avant-garde maka album yang penuh dengan cita rasa seni ini memang untuk anda.

Malaikat dan Singa dibuka dengan satu track yang berjudul "Kedalaman Air", saya cukup terkejut mendengarnya ketika Arrington menyanyikan lagu ini yang sangat fasih sekali bahasa Indonesia yang diucapkan. Track ini mampu membuat kepala dan badan ikut bergoyang mengikuti irama beat yang cukup kental disini. Meskipun sangat monoton tetapi track bernuansa rock n roll klasik yg berkolaborasi dengan free-jazz ini cukup epic sebagai pembuka album ini. "Mani Malaikat" sebagai track selanjutnya mulai menampakan jati diri dari musik Arrington de Dionyso yaitu Avant-Garde, dibuka dengan beat musik yang membuat kepala bergoyang dengan lirik yang cukup absurd namun bertransformasi di tengah-tengah menjadi free improvisation dengan surealisme kental yang susah dicerna. Cukup mengejutkan telinga saya, namun justru membuat saya kagum.

"Mencerminkan Mani Malaikat" yang tidak lain adalah sekuel dari track sebelumnya yg lebih menjelaskan dengan detail apa itu "Mani Malaikat" jika bisa dilukiskan ke dalam strukur tangga nada dan musik. Bukan hanya seni tetapi juga mani apalagi mani malaikat yg membuat telinga saya cukup terhibur dibuatnya. Dan itulah ritual yang harus dihadapi yang mencerminkan mani malaikat. Epic, sebagai track avant-garde.

Lanjut ke "Nama Bersembunyi" maka irama nge-beat mulai terdengar lagi yang tetap dipadu free-jazz nyeleneh seperti track "Kedalaman Air". Beat akan semakin menjadi jadi di track selanjutnya yaitu "Mahkota Kotor" dengan lirik yang cukup apik serta suara vokal Arrington. Dan beat akan semakin menggila di track selajutnya yaitu "Mencerminkan Mahkota Kotor". Dan ini adalah versi musikalitas tanpa vokal dengan bumbu seni avant-garde yang cukup kental sekali, track ini yang membuat saya merinding sekaligus takjub sambil berujar, JENIUS!

Ritual yang harus dihadapi selanjutnya adalah trilogi lagu "Rasa Sentuh" didalam "Ruang dan Waktu" yang "Tak Terbatas", disini memperjelas eksistensi siapa itu Arrington de Dionyso dengan Malaikat dan Singanya. Lalu "Cahaya Bahaya" datang menghentak dengan nuansa yang lebih nge-rock, meski dengan sentuhan avant-garde yang kental. Akhirnya kemudian menjadi lembut, dan ritual terakhir di depan Malaikat dan Singa akan segera berakhir. Arrington mengajak saya ikut ritual bersama di dalam klimaks dengan "Tenaga Halusinasi" yang cukup kuat, eargasm tiada tara ketika masuk dalam dunia sureal yang dibawakan Arrington selama dua belas menit. Dan itu adalah penutupan yang sangat tepat yang melukiskan bahwa Malaikat dan Singa akan pergi dari hadapan saya. Dan meninggalkan mani yang sudah tercecer akibat eargasm yang terjadi sebelumnya.

Well, album Malaikat dan Singa karya Arrington de Dionyso adalah sebuah album dengan cita rasa seni sureal yang tinggi. Dan seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, album ini tidak cocok untuk pendengar awam karena terdengar aneh bahkan menjadi sampah. Namun bagi penikmat segala bunyi-bunyian dan ekperimental dalam bermusik serta musik sebagai cita rasa seni, maka Malaikat dan Singa ini menjadi satu album yang bagus buat anda.

Artist
Arrington de Dionyso

Album
Malaikat dan Singa

Rilis
2009

Genre
Experimental, Avant-Garde, Free Jazz

Rating

Saturday, April 16, 2011

Antara Ed Wood & Sutradara Lokal Dengan Label Vividsm

Membaca thread Yang Suka nonton FILM JELEK masuk SINI ! di kaskus ini ibarat membaca sesuatu yg menjadi guilty pleasure yang sangat2 murni. Kocak. Well, saya sendiri tidak banyak membahas mengenai filmnya tetapi lebih ke tokoh siapa yang ada dibalik itu.

Fenomena film vividsm (istilah yg diberikan user kepada user vivid95 karena kecintaannya akan film jelek) seperti ini kalau saya tilik dari sejarah perjalanan film dunia, ada satu titik fenomena serupa sudah pernah muncul di belahan bumi barat yaitu Amerika. Ketika saat itu ada seorang sutradara favorit saya yg flamboyan dan eksentrik di era 50'an yg membuat film super jelek, namun ia tetap cuek aja dengan masukan dari luar, yang penting tidak menutup kreatifitasnya untuk berkarya. Orang itu tidak lain adalah Edward D. Wood, Jr. yg biasa dipanggil Ed Wood.

Edward D. Wood, Jr.

Ed Wood saat itu banyak dihujat oleh para kritikus2 film serta khalayak umum dan mengatakan bahwa film2nya sampah. Namun para penggemar film saat itu ada cara sendiri untuk menikmati film2 tersebut dan menjadikan film2 karya Ed Wood menjadi film cult. Hal ini juga sama seperti apa yang terjadi di Indonesia, dengan sutradara2 semacam Nayato, produser KKD, dsb ... Bagi banyak orang yang benar2 suka sama film berkualitas mengatakan bahwa film jenis ini "is not my cup of tea" dan itu benar. Tetapi penggemar yg sudah melabeli sutradara itu sebagai sutradara film cult pasti akan berkata berbeda dan ada cara sendiri untuk menikmati film jenis ini.

Antara Ed Wood dengan sutradara Indo dgn label vividsm hampir tidak ada bedanya. Dan banyak persamaan-persamaan di antara mereka, berikut ini persamaan mereka yg saya tahu :

1. Tidak peduli komentar orang serta memiliki kepercayaan diri yg tinggi.

Hell yeah, itu yang bisa saya katakan mengenai mereka. Meski film itu dicecara disana kemari, tapi tetap aja cuek bebek bikin film seenaknya sendiri tanpa ada yg membatasi. Kualitas ... nomer sekianlah !!

2. Membuat HYBRID GENRE

Apa itu Hybrid Genre? Maksudnya adalah menyampur dua genre yang berbeda dan mengemasnya dalam satu film. Saya ambil contoh film masterpiece Ed Wood yg super juelek "Plan 9 From Outer Space" (P9FOS) di film ini Ed Wood mencoba membuat film yang bakalan disukai 2 basis penggemar yang berbeda. Dalam hal ini adalah HORROR & FIKSI ILMIAH. Yah, di dalam film P9FOS ... Ed Wood meramu film itu menjadi film ganjil dimana kesan Horror dari zombie, vampire, dsb ... dimentahkan dengan kedatangan alien ke bumi dan menerror kota. Meski dikemudian hari banyak Hybrid Genre yg benar2 berkualitas bagus.

Hybrid Genre ala Ed Wood ini kemudian menjadi fenomena dan akhirnya semua orang setuju melabeli film ini menjadi film terjelek sepanjang sejarah untuk konsumsi film mainstream yg akhirnya melabeli Ed Wood sebagai sutradara terjelek sepanjang sejarah dan dilabeli sebagai sutradara CULT serta berpengaruh.

Nah, saya tidak tahu entah ngefans atau tidak. Sutradara dengan label Vividsm ... juga mengadopsi gaya Ed Wood yaitu membuat film jenis begini. Hal ini dicoba dengan mencampur film HORROR & DRAMA SOFTCORE ... Genre ini jadi bahan perbincangan dan akhirnya banyak yang menentang jenis film seperti ini. Namun, penggemar cult film ini berkata lain karena sudah benar2 menikmati film ini dengan cara berbeda dan hampir sama seperti yg dilakukan para penggemar film Ed Wood di masa lalu.

3. Semakin kesini, Semakin porno

Tidak bisa dipungkiri. Film karya sutradara dengan label vividsm melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Ed Wood terlebih dahulu di masa lalu. Ketika saat ini banyak orang resah dengan film horror yg sudah bukan horror lagi ketika ditambahan konten yang berbau softcore. Ed Wood sudah pernah melakukannya terlebih dahulu.

Pada saat itu, gairah untuk membuat film jelek semakin tak terkendali. Ed Wood yg saat itu juga akhirnya juga gatal membuat film softcore, hasilnya film2 dia paska P9FOS lebih banyak berbau pornografi ringan. Namun semakin kesini, ia semakin nekat dan akhirnya membuat film porno yang benar-benar Hardcore namun tetap bumbu cerita khas dia serta hybrid genre-nya.

Rasa gatal ini rasanya juga menular pada sutradara lokal dengan label vividsm. Dimana banyak wacana serta harap " kenapa tidak bikin film porno saja " ketika booming bintang film porno yang bermain dalam film Horror berbau porno. Kegerahan mengundang bintang film porno ini sebenarnya sebuah guilty pleasure yang tidak tersalurkan ketika dari lubuk hati sudah ingin membuat tetapi tersandung oleh hukum di Indonesia.

Andaikata negara ini bebas, akan ada banyak Ed Wood yg sesungguhnya dari Indonesia.

All Hail to Vividsm